Postingan Terbaru

Perberdaan Dilematika antara Cewek dan Cowok setelah Lulus Kuliah

(Gambar 1: Mahasiswa yang sedang merayakan kelulusan)


Fase setelah lulus kuliah merupakan fase dramatis sekaligus dilematis baik bagi perempuan maupun laki-laki. Fase ini merupakan fase transisi dimana sebelumnya mereka terbiasa hidup dalam dunia kampus yang nyaman, kemudian harus menghadapi dunia baru ditengah-tengah masyarakat. Ilmu yang mereka pelajari di kelas itu kebanyakan bersifat teoritis dan idealis, sedangkan di masyarakat mereka harus belajar dalam dunia praktis dan pragmatis.

Terdapat perbedaan dilematis antara laki-laki dan perempuan saat mereka lulus kuliah. Biasanya, bagi perempuan pertanyaan seputar pernikahan adalah pertanyaan yang paling dilematis, terutama bagi mereka yang jomblo. Pertanyaan "Kapan mau nikah?" bak seperti sambaran petir yang selalu dilontarkan berulang-ulang oleh orang-orang sekitar. Dalam anggapan masyarakat, umumnya tidak baik jika perempuan menikah terlalu tua. Usia perempuan di atas 20 tahunan dianggap sudah waktunya untuk menikah. Sehingga tak jarang timbul persepsi negatif terhadap perempuan yang belum menikah. Bahkan terkadang juga ada cibiran "tidak laku". 


Fase setelah lulus kuliah merupakan fase dramatis sekaligus dilematis baik bagi perempuan maupun laki-laki. Fase ini merupakan fase transisi dimana sebelumnya mereka terbiasa hidup dalam dunia kampus yang nyaman, kemudian harus menghadapi dunia baru ditengah-tengah masyarakat. Ilmu yang mereka pelajari di kelas itu kebanyakan bersifat teoritis dan idealis, sedangkan di masyarakat mereka harus belajar dalam dunia praktis dan pragmatis.


Terdapat perbedaan dilematis antara laki-laki dan perempuan saat mereka lulus kuliah. Biasanya, bagi perempuan pertanyaan seputar pernikahan adalah pertanyaan yang paling dilematis, terutama bagi mereka yang jomblo. Pertanyaan "Kapan mau nikah?" bak seperti sambaran petir yang selalu dilontarkan berulang-ulang oleh orang-orang sekitar. Dalam anggapan masyarakat, umumnya tidak baik jika perempuan menikah terlalu tua. Usia perempuan di atas 20 tahunan dianggap sudah waktunya untuk menikah. Sehingga tak jarang timbul persepsi negatif terhadap perempuan yang belum menikah. Bahkan terkadang juga ada cibiran "tidak laku". 

Lain lagi dengan laki-laki, setelah mereka lulus kuliah biasanya mereka akan segera dicecar dengan pertanyaan seputar pekerjaan, gaji dan dibanding-bandingkan dengan mereka yang sudah kerja. Pertanyaan "kapan mau kerja?" selalu menjadi momok yang menakutkan saat bertemu kerabat, sanak, saudara, atau pun tetangga. Ditengah-tengah persaingan dunia kerja yang ketat dan lapangan kerja yang terbatas, mereka harus berjuang mati-matian demi melepaskan status pengangguran yang mereka sandang. Karena tak ada artinya gelar dan sekolah tinggi-tinggi kalau menganggur. Oleh karena itu, pekerjaan sudah seperti simbol harga diri seorang laki-laki.

Kedua hal di atas terjadi karena adanya peran gender yang terkonstruksi dalam budaya masyarakat. Peran gender bagi perempuan dalam kebanyakan masyarakat selalu di identikkan pada ranah domestik sebagai ibu rumah tangga. Perempuan memang masih diperbolehkan untuk bekerja di luar rumah, namun ia harus tetap melakukan kewajibannya di wilayah domestik. Perempuan dipersepsikan sebagai makhluk yang emosional, keibuan dan lemah lembut. Dalam anggapan masyarakat juga perempuan dipandang lebih cepat dewasa daripada laki-laki sehingga wajar jika desakan untuk menikah pasca lulus kuliah cukup besar, sekakigus upaya represif untuk mencegah perzinahan.

(Gambar 2: Suasana Wisuda Ke-68 UIN SGD Bandung)

Begitu pun juga laki-laki, pertanyaan seputar pekerjaan yang selalu di cecarkan pada mereka pasca lulus kuliah itu tidak lepas dari peran gender yang terkonstruk dalam masyarakat. Peran gender seorang laki-laki dalam keluarga adalah sebagai kepala rumah tangga yang harus memberikan nafkah kepada keluarganya. Kerja bagi seorang laki-laki dipersepsikan sebagai simbol kedewasaan. Ketika seorang laki-laki sudah mampu hidup mandiri dan mempunyai penghasilan sendiri, maka ia dianggap sudah dewasa. Oleh karena itu, maka bukanlah suatu hal yang aneh ketika seorang pemuda yang belum bekerja dianggap belum layak sebagai menantu.

Bagaimana pendapat kalian? Silahkan sampaikan kritik dan saran anda di kolom komentar di bawah !

Adios.....





Oh ya, jangan lupa like halaman kami di facebook:

No comments:

Sampaikan kritik dan saran anda dengan menggunakan bahasa yang sopan dan santun

Powered by Blogger.